Hari-hari ini di Jakarta seolah lebih tertahankan. Jalan-jalan yang biasanya macet mulai jam 6 pagi lebih lengang dari biasanya. Waktu perjalanan bisa dihemat paling tidak setengah sampai satu jam dari biasanya. Ada apa gerangan dengan Jakarta. Jawabannya sederhana. Sekolah libur!
Dari kenyataan ini nampak sekali kontribusi sekolah terhadap kemacetan di Jakarta. Andaikan Jakarta bisa seperti ini sepanjang tahun. Polusi berkurang, lalu lintas lebih lancar, dan otak bisa lebih waras karena tidak stres. Namun begitu liburan sekolah usai, kegilaan di jalanan akan dimulai kembali.
Pemda Jakarta nampaknya sudah tahu betapa besar kontribusi anak sekolah terhadap kemacetan. Perda sudah mencoba dengan menghimbau (atau mengharuskan, aku kurang jelas) sekolah untuk mengubah jam masuknya supaya tidak tabrakan dengan jadwal orang kantoran. Cuma tidak tahu hasilnya bagaimana. Begitu pula dengan masalah parkir di depan sekolah yang tidak kunjung selesai. Parkir selalu membuat macet jalan di mana sekolah ada, baik di jam masuk maupun jam pulang sekolah. Mobil jemputan selalu mengambil jalur yang bukan haknya sehingga kendaraan di belakangnya terpaksa antri.
Apakah sistem rayon harus diberlakukan kembali supaya anak tidak bersekolah terlalu jauh dari tempat tinggalnya sehingga tidak perlu diantar pakai mobil? Mungkin. Atau sistem bus sekolah yang melakukan antar jemput sehingga anak tidak perlu naik kendaraan pribadi. Semuanya ini perlu dipertimbangkan. Namun satu hal yang sering dilupakan Pemda DKI, adalah solusinya sering kali tidak integral, mengubah satu tanpa melihat yang lain, atau malah kontra produktif. Masalah sekolah dan lalu lintas ini tidaklah sederhana, sehingga penyelesaiannya tidak bisa sekedar tambal sulan melainkan harus komprehensif.
Nikmatilah Jakarta, selama tidak terlalu macet. Selamat Ulang Tahun, JAKARTA!
Showing posts with label sekolah. Show all posts
Showing posts with label sekolah. Show all posts
Tuesday, June 30, 2009
Monday, July 14, 2008
Macet Hari Sekolah Pertama
Kemarin Jakarta kembali ditemani macet setelah kurang lebih sebulan macet agak mereda. Apa penyebabnya. Kalau kita ngobrol dengan para sopir atau mereka yang biasa menyetir, jawabannya jelas. Hari itu adalah hari pertama anak masuk sekolah.
Hal ini menarik untuk dilihat, betapa besar kontribusi anak sekolah terhadap masalah kemacetan di Jakarta. Hal yang pertama bisa dilihat adalah jam masuk pagi anak sekolah yang sama, berbeda dengan jam kerja yang lebih variatif. Jam yang sama ini tentu saja menimbulkan pemadatan pada jam tertentu. Seperti halnya pada kasus PLN yang kekurangan listrik, dan keputusan SKB 5 menteri yang memindahkan hari kerja ke sabtu minggu untuk pemerataan beban listrik, mungkin pemerataan jam sekolah adalah juga salah satu cara. Mungkin membagi sekolah menjadi 2, yaitu yang masuk pagi dan siang.
Hal yang kedua adalah jarak tempuh dari rumah ke sekolah. Masalah kemacetan tentu saja tidak harus terjadi kalau anak bersekolah tidak jauh dari rumah. Apakah sistem rayon seperti yang dulu dilakukan, yaitu anak harus memilih sekolah yang terletak di wilayah tempat tinggalnya perlu dicermati lagi sebagai salah satu solusi kemacetan? Masalahnya adalah tentu saja orang tua murid yang cendurung mau anaknya masuk sekolah favorit, walaupun tempat tinggalnya jauh. Masalah ini tentunya rumit, dan tentunya mendapat banyak tentangan jika dijalankan kembali. Pemerataan kualitas sekolah tentunya menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar jika kita ingin kembali ke sistem rayon.
Menurut angka tidak resmi, angka kontribusi kemacetan dari anak sekolah adalah 30%. Cukup besar, dan jika bisa diatasi dapat membuat Jakarta lebih layak dihuni.
Hal ini menarik untuk dilihat, betapa besar kontribusi anak sekolah terhadap masalah kemacetan di Jakarta. Hal yang pertama bisa dilihat adalah jam masuk pagi anak sekolah yang sama, berbeda dengan jam kerja yang lebih variatif. Jam yang sama ini tentu saja menimbulkan pemadatan pada jam tertentu. Seperti halnya pada kasus PLN yang kekurangan listrik, dan keputusan SKB 5 menteri yang memindahkan hari kerja ke sabtu minggu untuk pemerataan beban listrik, mungkin pemerataan jam sekolah adalah juga salah satu cara. Mungkin membagi sekolah menjadi 2, yaitu yang masuk pagi dan siang.
Hal yang kedua adalah jarak tempuh dari rumah ke sekolah. Masalah kemacetan tentu saja tidak harus terjadi kalau anak bersekolah tidak jauh dari rumah. Apakah sistem rayon seperti yang dulu dilakukan, yaitu anak harus memilih sekolah yang terletak di wilayah tempat tinggalnya perlu dicermati lagi sebagai salah satu solusi kemacetan? Masalahnya adalah tentu saja orang tua murid yang cendurung mau anaknya masuk sekolah favorit, walaupun tempat tinggalnya jauh. Masalah ini tentunya rumit, dan tentunya mendapat banyak tentangan jika dijalankan kembali. Pemerataan kualitas sekolah tentunya menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar jika kita ingin kembali ke sistem rayon.
Menurut angka tidak resmi, angka kontribusi kemacetan dari anak sekolah adalah 30%. Cukup besar, dan jika bisa diatasi dapat membuat Jakarta lebih layak dihuni.
Subscribe to:
Posts (Atom)