Sunday, December 14, 2008

Angkutan Umum (3)

Busway vs. Metromini

Warga Jakarta dalam beberapa tahun ini sudah cukup akrab dengan penghuni barunya, bis TransJakarta, yang lebih sering diacu orang dengan sebutan Busway (meskipun busway sebenarnya mengacu ke jalurnya, bukan bisnya, tapi ya sudahnya, sudah kadung). Di satu pihak ia memberikan angin segar dan harapan dalam semerawutnya jalanan di Jakarta. Di pihak lain... nah inilah ceritanya.

Yang pertama, antrian penumpang di beberapa haltenya kadang-kadang masih terlihat kurang manusiawi. Di satu pihak memang manusianya yang susah diatur untuk antri. Di pihak lain, kedatangan bisnya memang lama, bisa 15-20 menit. Jarak yang ideal adalah 5 menit di saat padat pagi dan sore hari, dan 15 menit di saat longgar. Entah apa kendala oleh operator sehingga sulit mengatur jarak ideal. Mungkin jumlah armada yang kurang, mungkin karena antrian di pengisian BBG sehingga harus menunggu lama.

Satu hal yang memang saya lihat ada di dekat tempat saya, adalah semrawutnya terminal Pulo Gadung, sehingga TransJakarta terkena imbasnya. Hal yang lain tentu saja adalah masuknya kendaraan pribadi dan sepeda motor ke dalam jalur busway (wah ini bahasa yang salah benernya, udah pakai jalur pake way lagi, double double, tapi ya sudahlah). Kemacetan pun berimbas pada bis TransJakarta juga.

Yang kedua adalah kelakuan sopir bis. Nampaknya para pengemudi TransJakarta, yang biasa disapa pramudi, belum bisa lepas dari kebiasaan lama sopir2 di Jakarta. Mereka masih sering melanggar batas kecepatan yang ditetapkan operator, yaitu 40-50 km/jam. Sering kali kecepatan mereka tembus bahkan 70 km/jam. Selain itu mereka sering melanggar batas garis di depan lampu lalu lintas, tak bedanya dengan para pengemudi sepeda motor dan angkutan umum. Ini tentu saja ada adalah sebuah potret buruk TransJakarta.

Ketiga, masalah fasilitas. Banyak tempat penyeberangan yang bolong2 sehingga sangat berbahaya bagi para calon penumpang. Kanopi penutup juga banyak yang rusak sehingga bisa kepanasan dan kehujanan. Entah bagaimana cara pengaturan anggaran pengelola TransJakarta.

Keempat, penjaga loket dan petugas tidak proaktif. Di saat ada masalah dengan jalur atau bis, mestinya mereka bisa mengkomunikasikannya dengan para calon penumpang sehingga mereka bisa pindah ke moda transportasi lain, tidak menunggu dengan harapan tidak jelas. Yang seperti ini mestinya tidak perlu menunggu perintah. Bukankah beberapa petugas memang memegang walkie-talkie sehingga dapat memantau?

Pelayanan TransJakarta memang masih jauh dari sempurna. Tapi saya selaku pemakai terus terang cukup merasa diuntungkan, mengingat biayanya yang cuma 3500 dan juga relatif bebas dari kemacetan. Hanya saja masih banyak ruang yang bisa diperbaiki, jika ingin menjadi TransJakarta menjadi sebuah moda transportasi yang bisa dibanggakan warga Jakarta.

Thursday, December 11, 2008

Angkutan Umum (2)

Lain Jakarta Lain Surabaya

Saya selalu bermasalah dengan masalah kecepatan kendaraan di Jakarta selalu ngebut, baik pengendara sepeda motor maupun mobil, apalagi Metro Mini yang emang biang ngebut. Setiap kali angkutan umum ngebut, jantung penonton dibuat empot-empotan. Kenapa mereka ngebut?

Alasan utama angkutan umum ngebut adalah ngejar setoran alias rebutan sewa (penumpang, dalam kosa kata kenek). Jika ada dua angkutan papasan, mereka pasti akan saling mendahului, sehingga terjadilah adegan seperti yang sering terlihat di film polisi. Padahal uang yang diperebutkan tidak seberapa, hanya satu dua penumpang yang paling senilai 5rb sampai 10rb. Tapi nyawa yang dipertaruhkan banyak. Baru saja dua angkutan umum Miniarta jurusan Depok-Bogor jatuh ke sungai yang memang terletak di samping jalan raya Bogor karena kejar2an. lihat di sini.

Masalahnya adalah para sopir yang ngebut tersebut hampir selalu lolos dari hukum, seolah ada imunitas. Mereka baru kena ganjaran hukuman kalau jatuh korban. Tentu saja, korban nyawa setelah kecelakaan tidak akan bisa diganti. Mengapa tidak diambil tindakan sebelum terjadi kecelakaan dengan menilang kendaraan yang ngebut? Apakah karena polisi kekurangan tenaga?

Apalagi kalau kita lihat di tol. Jelas2 ada rambu kecepatan di tol 60-80 km/jam, dan di luar kota 60-100 km/jam. Tapi ini adalah peraturan tak bergigi. Hampir setiap saat bisa kita lihat mobil yang kecepatannya di atas 100 bahkan 120 km/jam yang lolos dari hukum. Padahal batas kecepatan itu dibuat memang ada gunanya, karena kalau terjadi kecelakaan dalam batas kecepatan tersebut, kemungkinan selamat lebih besar.

Di lain pihak, ada sebuah cerita dari teman saya yang dosen terbang Jakarta-Surabaya. Suatu saat ia hampir terlambat dari airport Juanda untuk mengajar dan mengejar waktu dengan ojek. Oleh tukang ojek ia diminta pegangan karena akan ngebut untuk mengejar waktu. Setelah berjalan, ia malah berpikir kapan ngebutnya nih ojek karena kecepatannya hanya 60 km/jam. Tak lama kemudian ia memang sampai dan tidak terlambat. Tukang ojeknya dengan bangga berkata, "Kalau saya tidak ngebut tadi pasti sudah terlambat." Haha... ternyata di Surabaya 60 km/jam sudah termasuk ngebut. Mudah2an Surabaya tetap seperti ini, tidak seperti Jakarta.

Monday, December 1, 2008

Angkutan Umum (1)

Tipu-tipu kecil kenek angkutan

Dulu sewaktu saya belum lama di Jakarta, saya sering terkena tipu2 kecil ala kenek. Mungkin anda juga salah satu korbannya. Tipu2 kecil ini tidak membuat anda rugi berat sih, suka mengalami sedikit ketidakenakan saja, atau mengumpat kecil karena tahu telah ditipu. Untuk itu saya sajikan sedikit kamus tipu2 ala kenek Jakarta.

Duduk! Duduk! :
Kalau mereke berteriak seperti itu, bis tidaklah benar-benar kosong, melainkan tempat duduk sudah hampir terisi. Kadang2 malah hanya tersisa satu atau dua kursi. Kalau bisnya benar2 masih kosong, mereka tidak akan teriak seperti itu melainkan bisnya akan jalan seperti keong. Akal2an kecil seperti adalah untuk menjebak orang yang mengharapkan orang untuk mendapatkan tempat duduk. Secara teknis bohong2nya kecil sih, toh memang masih ada tempat duduk. Yang tidak diinformasikan hanya ada tinggal berapa!

Kosong! Kosong! :
Nah, kalau yang ini jebakannya lebih parah. Maksudnya kosong adalah kosong untuk berdiri! Tempat duduk sudah tidak ada. Jadi jangan berharap bisnya benar2 kosong.

Terakhir! Terakhir! :
Kalau ini bohong banget. Biasanya ini diteriakkan ketika hari sudah larut malam, untuk menjebak anda supaya buru2 naik bisnya dia, karena mengira ini benar2 bis yang terakhir. Ini juga untuk menjebak mereka yang tidak mau naik bis yang sudah penuh dan ingin menunggu bis berikutnya yang lebih longgar. Percayalah, masih banyak (bukan hanya satu atau dua, banyak!) bis dibelakangnya! Ini hanya truk untuk mendapatkan penumpang banyak di waktu malam.

Gak ada mobil! dengan alasan Ada Demo! atau Mobil no.sekian mogok! :
Ini juga bohong banget. Meskipun satu dua kali ada benarnya juga. Taktik ini biasanya berlaku di siang atau sore hari, dengan tujuan menjebak penumpang naik bisnya, bukan menunggu bis di belakang yang lebih longgar.

Demikianlah sekilas pengalaman saya selama bergaul dengan angkutan umum di Jakarta. Saya tidak tahu apakah trik2 kecil seperti ini juga berlaku di daerah lain. Setahu saya angkot2 di Bandung tidak pakai bohong2an seperti ini. Paling mereka agak rese urusan bayaran yang kurang2 sedikit.

Sekedar permenungan, apakah kerasnya Jakarta membuat mereka melakukan tipu2 kecil seperti ini, di alam persaingan hidup yang keras.

Thursday, November 13, 2008

Eros Jarot dilarang shooting film di Klaten

Baru saja kemarin saya posting tentang kebebasan berpendapat, kasus terbaru terjadi di bumi Indonesia. Eros Jarot yang sedang memproduksi film Lastri, dilarang melakukan shooting di Wedi, Klaten, karena dituduh film tersebut menyebarkan faham komunisme. Beritanya bisa dilihat di Media Indonesia dan Kompas.

Menurut berita yang saya kutip, larangan itu keluar dibarengi dengan adanya surat kaleng yang mengatakan bahwa film tersebut akan menyebarkan faham komunisme. Menurut wawancara KBR68H dengan Eros Jarot pagi ini, 14 Nov 2008, ia mengaku telah mengantongi izin dari Kepolisian RI untuk melakukan shooting tersebut. Namun rupanya izin tersebut tidak mempan di level Polsek, walhasil shootingnya tetap dilarang. Masyarakat sekitar menurut pengakuran Eros Jarot juga tidak keberatan. Padahal film tersebut sekedar sebuah interpretasi dari kejadian G-30-S yang dijadikan latar belakang cerita, bukan film dokumenter.

Hantu komunisme nampaknya masih laku di tengah iklim kebebasan pers yang mulai kita hidup 10 tahun. Begitu pula dengan hantu ateisme dan aliran sesat. Masyarakat kita (atau aparat atau keduanya) nampaknya belum terbiasa dengan iklim kebebasan berpendapat dan ingin kembali ke era tertekan di zaman Orde Baru. Masih ingat kasus penyerbuan ke Toko Buku Ultimus di Bandung karena mereka mengadakan diskusi tentang gerakan buruh? Mereka pun dituduh menyebarkan faham komunisme. Buku tulisan Rm. Magnis Suseno pun dulu pernah dirazia karena menulis tentang filsafat Marxisme.

Nampaknya beban sejarah bangsa ini masih berat. Entah butuh berapa generasi pendidikan supaya kita bisa benar-benar hidup dalam alam yang bebas.

Wednesday, November 12, 2008

Blogger Myanmar divonis 20 tahun penjara

Seorang blogger Myanmar, Nay Myo Kyaw, 28, baru saja divonis 20 tahun penjara karena mempublikasikan sebuah puisi di blognya yang mempermalukan Jendral Than Swe. Sekilas puisinya adalah sebuah puisi Valentine, tetapi kalau huruf depannya dikumpulkan, yang terbaca adalah "Power Crazy Senior General Than Shwe". Puisi itu sendiri ditulis oleh Saw Wai, yang divonis dua tahun penjara.

Anda tentu masih ingat dengan blogger Malaysia yang juga dituntut di depan hukum karena aktivitas bloggingnya.

Tak terbayang kalau hal seperti itu terjadi di Indonesia (atau malah sudah, yang mempermalukan SBY dengan manipulasi foto). Jika kebebasan untuk berbicara (baca: menulis) sudah dikerangkeng sedemikian rupa, mungkin aku akan memilih untuk tidak tinggal di Indonesia.

Memang, kebebasan total juga tidak bisa diterima, misalnya posting yang menghasut untuk melakukan tindak pidana yang serius seperti membunuh dan membakar. Tetapi kalau sekedar lucu2an, itu saya pikir tidak apa2. Hal seperti itu sudah biasa di negara yang maju. Tulisan harus dibalas dengan tulisan, bukan dengan hukuman.

Saya berharap2 cemas saja hal seperti ini tidak terjadi di Indonesia, sebab naga2nya kebebasan berpendapat sudah mulai agak muram di Indonesia.

Sumber berita: UPI lihat di sini

Wednesday, November 5, 2008

Selamat untuk Barack Obama!

Di beberapa belahan Amerika para pendukung Barack Obama sedang merayakan kemenangan presiden pilihan mereka. Tak ketinggalan pula dengan anak Menteng yang ikut bergembira di tengah guyuran hujan. Penduduk kota Obama di Jepang (yang sebenarnya gak ada hubungannya) juga ikut bersukacita.

Saya pribadi yang sebenarnya lebih suka dengan Hillary, turut bergembira karena kandidat Partai Demokrat mampu mengalahkan Partai Republik, walaupun efek langsung dari terpilihnya Obama mungkin tidak terasa bagi diri saya sendiri.

Namun yang mau saya soroti adalah terpilihnya seorang kulit hitam (walau Obama hanya separuh hitam) menjadi presiden sebuah negara adidaya. Dengan ini Amerika dengan gagah bisa berkata kepada dunia lain, bahwa di negara mereka ada persamaan hak politik, apa pun warna kulitnya. Ini adalah sebuah langkah besar bagi sebuah negara demokratis, di mana prasangka ras dan agama bisa dikalahkan.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Beberapa kejadian menunjukkan bahwa sentimen kedaerahan masih berlaku. Apalagi dengan sentimen agama yang ditunjukkan dengan makin merebaknya perda2 berbau agama. Sulit untuk membayangkan di Indonesia muncul seorang presiden dari etnis minoritas, keturunan cina, apalagi yang beragama kristen misalnya. Semuanya dikalahkan dengan meminjam argumen demokrasi, yaitu mayoritas berhak memimpin. Mungkin kita bisa belajar dari Amerika dalam hal ini, bahwa kepentingan bersama mengalahkan sentimen agama dan ras.

Sunday, November 2, 2008

Siapa yang Menang, Obama atau McCain?

Pemilihan Presiden Amerika kali ini bisa dibilang memang yang paling menarik dan ditunggu di seluruh dunia. Untuk pertama kalinya, ada kemungkinan Amerika akan memiliki seorang presiden berkulit hitam. Bagi para pengusung kebebasan, ini tentunya menjadi kesempatan untuk memproklamirkan bahwa orang Amerika telah mampu keluar dari pra-anggapan rasial, sehingga seorang hitam pun bisa menjadi presiden.

Di dalam polling terakhir, kelihatan bahwa Obawa memimpin 6 poin di atas McCain, sebuah angka yang cukup signifikan, kalau merujuk ke perbedaan angka di dalam sejarah Amerika (Bush menang terhadap Kerry hanya dengan selisih 2 poin). Pertanyaan apakah polling ini akan terbukti bisa dijawab dalam beberapa hari lagi.

Meskipun sebagian orang nampaknya sudah yakin bahwa Obama akan menang (khususnya pendukungnya, tentu saja, dan ini bukan hanya di Amerika tapi juga di belahan dunia lain), ada beberapa hal yang perlu kita cermati.

1. Kasus Truman vs Dewey. Dimana semua polling memprediksi bahwa Dewey akan memenangkan pilihan, sehingga koran pun sudah mencetak dengan tulisan besar di headline merekaL: DEWEY. Kenyataannya adalah Truman yang menang, dan ini menjadi tertawaan besar untuk media tentu saja. Pada waktu itu polling (yang dilakukan oleh Gallup) belum secanggih sekarang. Lembaga polling berhenti melakukan polling tiga minggu sebelum pemilihan, dan di dalam minggu terakhir itulah ada migrasi suara dari pemilih calon independen kepada Truman, yang memberikannya kemenangan. Sekarang kesalahan itu telah diantisipasi dengan melakukan polling sampai menjelang pemilu, yang dikenal dengan nama exit polling. Ada juga yang mengatakan bahwa kesalahan polling terjadi karena polling dilakukan melalui telepon, sedangkan sebagian besar pemilih Truman tidak memiliki sambungan telepon.

2. Bradley effect. Bradley effect mengacu pada pemilihan gubernur California 1982, dimana Bradley, seorang calon berkulit hitam, unggul cukup banyak dari pesaingnya dari partai republik yang berkulit putih di dalam polling. Kenyataannya ia kalah. Sebabnya adalah, orang menjawab akan memilih Bradley di dalam polling karena takut disebut rasis tidak mau memilih kulit berwarna, dan dalam kenyataannya ia di bilik suara memberikan suara kepada kulit putih. Paling efek ini mempengaruhi sebanyak 6 poin, walaupun belum pernah ada kasus secara nasional untuk ini. Obama dikhawatirkan juga akan mengalami ini, sehingga kemenangannya di dalam polling masih terlalu dini untuk dirayakan.

3. Reverse-Bradley effect. Namun ada pula orang yang mengatakan bahwa di dalam pemilu kali ini yang akan terjadi justru sebaliknya. Banyak orang partai republik yang tidak berani terang2an berkata akan memilih Obama di dalam polling, meskipun sebenarnya mereka akan memilih Obama. Jadi Obama akan menang telak.

Apa yang akan terjadi, nampaknya memang sulit untuk diprediksi. Untuk negara sebesar dan sedemokrasi Amerika, isu seperti ras, agama dan gender masih memegang peranan. Terbukti Amerika belum pernah memiliki presiden kulit berwarna, presiden perempuan, dan presiden non-kristen (katolik pernah sekali yaitu JFK). Bandingkan dengan India sebagai negara Hindu terbesar yang pernah punya presiden beragama Islam. Dengan isu2 seperti ini, massa bisa digoyang dari satu kandidit kepada kandidat lain hanya karena hal2 tidak rasional, yang tidak berhubungan dengan janji2 kampanye.

AKhir kata, tunggu saja tanggal mainnya. Ada yang mau taruhan?